Rabu, 03 Oktober 2012

>Solusi Problem CVT Honda BeAT

Archive for the ‘Matic’ Category

>Solusi Problem CVT Honda BeAT

February 13, 2011
>
Motor matic memang termasuk motor yang nyaman untuk dikendarai. Mekanisme mesin skubek memang kompak. Itu karena skubek didukung CVT yang terdiri dari puli primer dan sekunder dengan kopling sentrifugal (otomatis). Saking kompaknya, skubek enggak butuh pemindah gigi. Ya, seperti Honda BeAT, suara mesin dan putarannya terbilang sangat halus mulai dari rpm bawah sampai atas.
Tapi, sehalus-halusnya CVT, kalau salah satu komponen bermasalah repot juga. Selain timbul suara berisik, tunggangan seperti tersendat mulai mesin dihidupkan hingga grip gas dibuka untuk jalankan motor matik.
Biasanya belt di puli mulai kotor, roller miring (peang), lubang alur di mangkuk puli skunder skunder agak terkikis atau mangkuk kampas kopling sentrifugal tiddak rata lagi. Makanya timbul suara aneh dan jalan skubek enggak normal.
Namun sumber semua masalah selain cara pakai yang kasar, juga tergantung dari cara pemilik merawat mesin. Apalagi komponen di CVT rawan debu, oli dan air. Ketika sudah tidak peduli lagi, komponen gampang rusak hingga timbul berisik atau jalan tersendat.
Cara paling sederhana jaga kondisi CVT agar tetap baik yaitu hindari 3 hal itu. Misal selalu bersihkan filter udara CVT setiap 3 bulan atau berbarengan saat servis berkala. Namun jika filter udara mulai berpori besar, tersumbat atau robek segera diganti dan tidak bisa ditawar.
Jika debu campur air masuk ke rumah CVT dan mengendap di belt atau roller, kedua komponen bukan cuma cepat terkikis tapi akan timbulkan suara mendecit. Parahnya lagi jalannya tunggangan tidak lencer lagi.
Persolan juga bisa dari cara pakai dan perawatan. Apalagi kalau komponen CVT juga gunakanan pelumas khusus berupa gemuk (grease) tidak dilakukan penggatian secara berkala. Makanya disarankan untuk melakukan pelumasan rutin setiap satu tahun sekali.
Sumber : ototips.otomotifnet.com

>Pahami Pelumasan Mesin Skutik, Yuk Ikuti Petunjuk!

February 8, 2011
>

Mendengar kata pelumasan di skutik, jangan hanya terpaku pada oli mesin saja lo. Soalnya ada beberapa bagian lain yang juga butuh pelumasan serta penggantian pelumasnya secara berkala.
Yuk kita telaah bagian demi bagian itu. Karena jika sampai lolos dari perhatian, tandanya sobat enggak sayang sama motornya dong. Hehehe..!
Kalau untuk mesin, rata-rata penggantian periodik dilakukan minimal setiap 2.000 – 2.500 km. Tapi ingat, oli yang digunakan jangan asal lo. Pilih yang sesuai spesifikasi. Untuk skutik, sebaiknya gunakan yang berspek JASO MB. Karena oli ini cenderung lebih licin dan khusus dibuat untuk mesin kopling kering.
Maklum, pada skutik mesin cenderung bermain di putaran tinggi. Sehingga butuh pelumas yang lebih licin dan encer biar sirkulasi olinya cepat merambat ke semua komponen bergerak di silinder dan kepala silinder.
 Makanya lazimnya oli matik punya tingkat kekentalan atau SAE (Society of Automotive Engineers) lebih encer dari oli motor berkopling basah kayak bebek dan sport.
Bagian berikutnya yang juga kudu diperhatikan adalah oli girboks atau gigi reduksi. “Di skutik Honda, oli ini disarankan diganti setiap 8.000 km berbarengan dengan servis bagian CVT,” bilang Wedijanto Wi­darso, Manager Tecnical Departemen Service Divison PT Astra Honda Motor (AHM) beberapa waktu lalu.
Beberapa bagian komponen bergerak pada CVT wajib dilumasi menggunakan grease khusus tahan panas secara berkala
Rata-rata hampir sama pula dengan skutik merek lain. Tapi di matiknya Suzuki, sarannya setiap 5.000 km. Lalu khusus Yamaha Xeon, setiap 9.000 km.
Lantas oli apa yang harus digunakan? Menurut beberapa mekanik, untuk girboks gak masalah pakai oli mesin.
“Makin kental makin bagus. Tapi takarannya sedikit saja, sekitar 100 – 150 cc tergantung motornya,” bilang M. Fadli, juragan Fadli Motor di Jl. Raya Bogor Km.41,5 yang kerap menangani matik.
Namun kalau dari pabrikan sih rekomendasinya pakai oli khusus untuk gigi reduksi. Masing-masing pabrikan sudah mengeluarkan oli khususnya kayak Yamalube Gear Oil (Yamaha), SGO (Suzuki), AHM Oil Transmission Gear (Honda).
Lalu bagian mana lagi yang butuh pelumasan? “Beberapa komponen bergerak pada sistem CVT wajib dilumasi menggunakan grease khusus secara berkala. Sekalian membersihkan ruang CVT dari  kotoran dan debu. Untuk produk Yamaha umumnya setiap 10.000 km,” beber M. Abidin, Manager Technical Departement Service Division PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI) beberapa waktu lalu.
Untuk produk Honda, kata Wedijanto setiap 8.000 km. Nah, bagian yang dilumasi antara lain primary sliding sheave berikut spacer-nya, secondary sliding sheave serta secondary­ fixed sheave dan sebagainya. (motorplus.otomotifnet.com)

>Standar Tengah Mio Goyang? Atasi Pakai Pen Piston Tiger!

December 30, 2010
>
Jakarta – Punya masalah standar tengah di Yamaha Mio atau Nouvo? Yap, motor goyang-goyang jika dalam posisi disangga standar tengah. Eit, sabar cuy! Nih ada obatnya.
Akibat sering diduduki dalam kondisi standar tengah, membuat lubang as yang ada di standar jadi cepat aus. “Akibat aus, lubang jadi membesar. Ini yang menyebabkan motor goyang-goyang,” timpal Icho, Mekanik Mulia Mitra Motor di Jl. H Mencong Raya No. 41, Ciledug, Tangerang. Itu karena di bagian ujung standar, antara diameter as dan lubang sudah tidak rapat. Akhirnya, setiap gerakan yang diterima membuat motor bergoyang mengikuti beban yang diterima.
Cara mengakalinya mudah! Menurut pria bertubuh kurus tapi berkulit putih ini, cukup diakali pakai pen piston milik Honda Tiger. “Pen berfungsi sebagai penahan di ujung-ujung lubang standar yang sudah termakan,” ungkapnya.
Enggak perlu pen piston baru! Tapi cukup pakai bekas yang ada di bengkel. Setelah dapat, lanjutkan ke proses. Potong pen piston yang punya diameter luar 15 mm itu sekitar 1–1,5 cm. Bikin dua buah ya. Kelar dipotong, sobat tinggal minta bantu ke tukang las untuk menguatkan dudukan pen itu di ujung standar.
Jika sudah, tinggal pasang lagi seperti ketika membuka. Menurut Icho, cara ini lebih efektif. Diameter as standar tengah dengan pen piston Tiger cukup rapat. Jadi, tidak ada gejala geol-geol lagi.
Murah meriah memang. Cukup keluarkan sedikit dana untuk biaya las doang tuh! “Selain itu karena pen ini dari baja, cenderung lebih kuat,” bilang mekanik ramah ini. (motorplus.otomotifnet.com)
Sumber : ototips.otomotifnet.com

>Lumasi Puli Skutik, Lebih Licin Lebih Lancar

December 29, 2010
>
Jakarta – Lancarnya sistem transmisi tentu membuat pengendaraan semakin nyaman. Tak hanya itu, konsumsi bahan bakar pun lebih optimal, karena hambatan tenaga dari mesin ke roda berkurang. Pada skutik ada beberapa bagian di transmisi CVT-nya yang perlu mendapat perawatan. Terutama di bagian-bagian yang bergesekan seperti pada puli-puli dan belt. Tetapi ada lagi bagian yang di dalamnya terdapat peranti yang bergesekan dan memerlukan pelumas di bagian tersebut. Seperti di bagian slider di puli.
“Perawatannya dengan memberikan gemuk di bagian yang bergerak,” tutur Santoso, dari bengkel Suzuki Meruya Ilir.
Bagian ini ada di balik kopling ganda alias ada pada puli sekunder. Slider ini akan bergeser pada daya sentrifugal tertentu, sehingga belt akan bergeser dan membuat rasio yang berubah untuk memberikan percepatan berbeda pada roda belakang.
Setelah dibuka, mulai dari rumah kopling dan kopling gandanya, akan tampak beberapa bagian, mulai puli, per CVT dan kopling gandanya (gbr.1). Setelah bagian itu terlepas semua, kemudian copot penutup slider dengan cara mengungkitnya (gbr.2).
Kemudian, copot pen pengunci menggunakan tang (gbr.3), lantas dilanjutkan dengan Setelah terlepas bagian tersebut dicuci dulu, menggunakan bensin atau cairan lain yang mampu merontokkan gemuk lawasnya (gbr.4).
Setelah bersih dan dikeringkan, pasang kembali pen pada kedua bagian puli tadi (gbr.5). Dilanjutkan dengan mengoleskan gemuk di celah yang ada, masukkan cukup gemuk ke dalamnya, lalu coba gerakkan bagian tersebut hingga terasa lancar (gbr.6). Terakhir pasang kembali penutup slider dengan menekannya masuk.
Nah, rangkai kembali bagian-bagian ini sehingga terpasang rapi kembali. Dengan gemuk baru, hambatan gerak pun jadi berkurang, bagian-bagian yang bergesekan pun akan lebih awet, karena gemuknya lebih bersih. (motorplus.otomotifnet.com)
Penulis : Ben | Editor : AZ | Fotografer : Ben

>Aplikasi Karburator Suzuki Satria FU DI Yamaha Nouvo Z

December 28, 2010
>
OTOMOTIFNET - Ada seorang pembaca yang mengeluh soal performa dapur pacu Yamaha Nouvo Z miliknya yang bermasalah. Yakni tarikan motor terasa lambat dan ada gejala mbrebet. Kecurigaan Adhe, sumber masalah datang dari sistem auto choke di karburator yang tidak bekerja dengan baik.
“Saya sempat tanya ke mekanik, katanya Nouvo Z memang ada kelemahan di karburator lantaran menganut sistem cuk otomatis. Beberapa temannya menyarankan untuk mengganti karburator pakai punya Suzuki Satria FU. Apa positif dan negatif penggantian karburator tersebut?” tanya Ade via email.

Gbr 1

Gbr 2

Gbr 3

Gbr 4
Oh iya, perlu diketahui terlebih dulu bahwa karburator standar Nouvo Z adalah Mikuni BS25 dengan sistem cuk otomatis. Sementara punya Satria FU adalah Mikuni BS26 dengan sistem cuk model tarik pakai kabel.
Nah, menurut Maman Sugiman, kepala instruktur Hartomo Mechanical Training Center (HMTC) Depok, Jabar, umumnya penggantian karburator berdiamter venturi lebih gede dari standar, bisa memperbaiki atau menambah performa mesin. “Dengan catatan, settingan yang dilakukan pada karburator pengganti itu tepat. Seperti ukuran spuyer, setelan angin dan sebagainya,” terang Boim, sapaan akrabnya.
Namun biasanya penggantian karburator, apalagi yang konstruksinya berlainan kayak punya Satria FU (meski sama-sama tipe BS), butuh ubahan yang tidak sedikit. “Bisa sih bisa, tapi mesti ada beberapa hal yang mesti disesuikan. Antara lain kalau ingin mengaktifkan choke manualnya, mesti tambah mekanisme penarik choke (gbr.1) kayak di Nouvo model lama (Sporty),” ujar Boim.
Selain itu, lantaran diameter luar venturi karburator yang menuju karet intake manifold milik Satria FU lebih besar 3 mm (gbr.2) dari karbu standar (34 mm), maka mau tidak mau mesti memangkas (bubut) sedikit diameter luar venturi tersebut atau menipiskan sedikit diameter dalam karet intake (gbr.3).
Belum cukup sampai di situ, setelah karburator terpasang, giliran memikirkan posisi kabel gas yang terpasang pada karburator. Punya Satria FU, posisi kabel gas pada karburator letaknya di atas sebelah kanan. Sementara bawaan Nouvo/Nouvo Z adanya di samping kiri.
“Kalau pakai karbu Satria FU, mau tak mau mesti cari kabel gas yang ujungnya pakai pipa bengkok (gbr.4). Atau bisa juga diakali pakai selongsong kabel choke punya Nouvo/Nouvo Z sendiri. Itu pun cover dek tengah atas harus dilepas bila tak ingin kabel gas mentok. Agak repot memang,” tukas pria asli Kuningan, Jabar ini.
Masih kata Boim, paling gampang dan tidak butuh ubahan banyak lebih baik pakai saja karbutor Nouvo yang lama (Sporty).”Paling cuma nambah kabel choke dan mekanisme penariknya. Bisa juga choke-nya dinonaktifkan, tapi biar mesin mudah hidup waktu dingin, pilot jetnya ganti yang lebih gede 1 step,” tutup pria kelahiran 1982 ini.
Hayo pilih mana?
Sumber : ototips.otomotifnet.comvar geo_Partner = ’5fad2c58-e266-4307-a320-e57f7ac8e9c0′; var geo_isCG = true;

>Oprek Puli Primer, Bisa Buka Limiter Skutik!

December 8, 2010
>
Paket puli seharga Rp 650 ribu, terbukti mampu membuka limiter

OTOMOTIFNET
– Salah satu cara meningkatkan akselerasi skutik, bisa dilakukan lewat meng-upgrade kinerja komponen CVT. Antara lain kalau ingin menerapkan cara yang agak advance yaitu mengaplikasi big pulley atau bisa juga meng-custom sudut lintasan roller pada puli primer.
Tujuan dari pemakaian big pulley atau mengubah sudut lintasan pulley, umumnya guna mengejar kemampuan mencapai top speed yang lebih tinggi dari sebelumnya. Selain itu percepatan motor mulai saat berakselerasi hingga putaran atas juga bisa lebih baik.
“Soalnya salah satu pembatas atau limiter kecepatan pada motor jenis ini (skutik) terletak di komponen CVT. Kalau limiter tersebut bisa dibuka, otomatis putaran mesin akan lebih tinggi yang berdampak top speed motor nambah. Meski motornya masih standar,” bilang Miekeel Tjahjanto, punggawa MC Racing di Jl. Kebon Jeruk IX, Kota, Jakbar.
Nah, khusus yang disebut terakhir (memodikasi lintasan roller), MC Racing menyediakan paket jadi buat Yamaha Mio. Terdiri dari primary sliding sheave (PSS) di mana tempat roller bersarang, primary fixed sheave (PFS) dan slider.
“Selain sudut kemiringannya diubah, lintasan roller-nya juga dibuat lebih panjang. Sehingga variabel bukaan belt pada puli depan bisa lebih besar lagi,” jelas Miekeel sembari menyebutkan harga paketnya Rp 650 ribu.
Oh iya, selain membubut sudut serta memperpanjang lintasan roller untuk slider, lanjut Mieekel, sirip-sirip pada PSS juga dipangkas guna memperenteng bobotnya. Termasuk membabat rata sirip pada PSF yang berfungsi sebagai kipas. Teorinya, dengan makin ringan komponen puli depan, akan mengurangi beban putaran mesin sehingga putaran bisa lebih tinggi lagi.
Namun untuk PSF, kata Miekeel boleh-boleh saja tetap mengandalkan bawaan motor yang masih ada sirip kipasnya untuk pendinginan komponen CVT. Terutama yang cover CVT-nya masih tertutup rapat alias standar. Selain itu untuk part slider-nya harus menggunakan kepunyaan Fino. “Karena kalau pakai slider bawaan Mio, hasilnya tidak akan maksimal,” jelasnya.
Oke, yuk kita buktikan saja kemampuan paket puli custom lansiran MC Racing ini. Apakah benar bisa membuka limiter kecepatan maupun putaran mesin seperti yang dipromosikan juragannya?
Metode pengujiannya kami pakai mesin Dyno dengan bahan praktik Mio standar keluaran 2009 awal yang sudah menmpuh jarak 4.009 km. Alat pengukur performa mesin ini kami gunakan karena selain membaca tenaga dan torsi, juga bisa mengukur kecepatan motor dan putaran mesin. Mesin dyno yang kami gunakan adalah merek Rextor Sport Device V3.3 milik PT. Global Motorindo di kawasan Galur, Cempaka Putih Jakpus.
Hasilnya, silakan deh lihat boks Hasil Pengetesan.


Data Hasil Pengujan Dyno
Kondisi Max Power Max Torque Max Speed Max RPM
Puli STD 8.4 dk/5.462 rpm 11.45 Nm/4.935 rpm 115 km/jam 11.800 rpm
Puli Custom 8.9 dk/6.290 rpm 11.52 Nm/4.949 rpm 128 km/jam 12.800 rpm

Sumber : ototips.otomotifnet.com

>Aplikasi Karburator Suzuki Satria FU DI Yamaha Nouvo Z

November 25, 2010
>
OTOMOTIFNET - Ada seorang pembaca yang mengeluh soal performa dapur pacu Yamaha Nouvo Z miliknya yang bermasalah. Yakni tarikan motor terasa lambat dan ada gejala mbrebet. Kecurigaan Adhe, sumber masalah datang dari sistem auto choke di karburator yang tidak bekerja dengan baik.
“Saya sempat tanya ke mekanik, katanya Nouvo Z memang ada kelemahan di karburator lantaran menganut sistem cuk otomatis. Beberapa temannya menyarankan untuk mengganti karburator pakai punya Suzuki Satria FU. Apa positif dan negatif penggantian karburator tersebut?” tanya Ade via email.

Gbr 1

Gbr 2

Gbr 3

Gbr 4
Oh iya, perlu diketahui terlebih dulu bahwa karburator standar Nouvo Z adalah Mikuni BS25 dengan sistem cuk otomatis. Sementara punya Satria FU adalah Mikuni BS26 dengan sistem cuk model tarik pakai kabel.
Nah, menurut Maman Sugiman, kepala instruktur Hartomo Mechanical Training Center (HMTC) Depok, Jabar, umumnya penggantian karburator berdiamter venturi lebih gede dari standar, bisa memperbaiki atau menambah performa mesin. “Dengan catatan, settingan yang dilakukan pada karburator pengganti itu tepat. Seperti ukuran spuyer, setelan angin dan sebagainya,” terang Boim, sapaan akrabnya.
Namun biasanya penggantian karburator, apalagi yang konstruksinya berlainan kayak punya Satria FU (meski sama-sama tipe BS), butuh ubahan yang tidak sedikit. “Bisa sih bisa, tapi mesti ada beberapa hal yang mesti disesuikan. Antara lain kalau ingin mengaktifkan choke manualnya, mesti tambah mekanisme penarik choke (gbr.1) kayak di Nouvo model lama (Sporty),” ujar Boim.
Selain itu, lantaran diameter luar venturi karburator yang menuju karet intake manifold milik Satria FU lebih besar 3 mm (gbr.2) dari karbu standar (34 mm), maka mau tidak mau mesti memangkas (bubut) sedikit diameter luar venturi tersebut atau menipiskan sedikit diameter dalam karet intake (gbr.3).
Belum cukup sampai di situ, setelah karburator terpasang, giliran memikirkan posisi kabel gas yang terpasang pada karburator. Punya Satria FU, posisi kabel gas pada karburator letaknya di atas sebelah kanan. Sementara bawaan Nouvo/Nouvo Z adanya di samping kiri.
“Kalau pakai karbu Satria FU, mau tak mau mesti cari kabel gas yang ujungnya pakai pipa bengkok (gbr.4). Atau bisa juga diakali pakai selongsong kabel choke punya Nouvo/Nouvo Z sendiri. Itu pun cover dek tengah atas harus dilepas bila tak ingin kabel gas mentok. Agak repot memang,” tukas pria asli Kuningan, Jabar ini.
Masih kata Boim, paling gampang dan tidak butuh ubahan banyak lebih baik pakai saja karbutor Nouvo yang lama (Sporty).”Paling cuma nambah kabel choke dan mekanisme penariknya. Bisa juga choke-nya dinonaktifkan, tapi biar mesin mudah hidup waktu dingin, pilot jetnya ganti yang lebih gede 1 step,” tutup pria kelahiran 1982 ini.
Hayo pilih mana?
Sumber : ototips.otomotifnet.com

>Subtitusi Kampas Kopling Mio Pakai Punya BeAT, Lebih Hemat!

November 23, 2010
>
OTOMOTINET – Meski dari produsen yang berbeda, tapi soal komponen, antara Yamaha Mio dan Honda BeAT ada yang sama, lo. Terutama kampas kopling otomatis atau biasa disebut kampas ganda (KG). Seperti kata Ivo Samudra, mekanik TZT Speed Shop, “Buat part KG-nya, kedua skutik itu bisa saling tukar, kok.” Bahkan menurut pria yang biasa mangkal di kawasan Jl. RS Fatmawati Raya, Jaksel ini, ia sering menerapkan metode itu.
Gbr 1 Gbr 2

Gbr 3
Gbr 4
Masih menurut mekanik ramah itu, trik substitusi ini selain lebih efektif, soal biaya juga lebih murah. “Kampas BeAT sekitar Rp 120 ribuan. Sementara punya Mio Rp 230 ribuan. Maklum, punya Mio kudu beli satu set termasuk mangkuknya. Sebaliknya punya BeAT bisa dibeli satuan alias kampasnya saja tanpa dudukan kampas kopling.
Cara pasangnya juga mudah dan gak perlu mengubah sedikit pun di rumah CVT Mio. “Lantaran bentuk dan ketebalan mirip,” tambahnya. Nah, daripada bingung, kita buktikan aja yuk! Jangan lupa siapkan perkakasnya ya!
Obeng kembang, obeng min, T-8, T-12, ring 24, tang lancip dan treker. Sudah? Sekarang lepas dua baut dek cover bawah dekat footstep belakang pakai obeng kembang. Lalu, copot dua baut pijakan boncengan pakai T-12, agar lebih leluasa saat melepas cover CVT (gbr.1).
Lantas copot semua baut di cover CVT pakai kunci T-8 (gbr.2). Setelah casing CVT dibuka dari tempatnya, kelihatan deh perangkat CVT. Trus, lepas peranti rumah KG dibantuan treker atau pengunci rumah KG dan kunci ring 24 (gbr.3).
Gbr 5 Gbr 6
Langkah berikutnya, tarik KG yang menyatu dengan puli belakang pakai tangan dan juga belt. Lalu, letakkan puli di tempat rata, guna mecopot mur pengikatnya pakai kunci Inggris. “Hati-hati! Saat membuka murnya, bagian pinggir kampas harus ditahan pakai kaki dan tangan. Sebab, per CVT di dalamnya akan mendorong keras ke atas,” wantinya sambil mencontohkan cara melepasnya (gbr.4).
Kelar melepas mur tadi, terdapat tiga per penahan KG. Lalu cabut per-nya pakai tang lancip (gbr.5). Dilanjutkan, melepas ring spi alias pengunci di setiap sepatu kampas pakai obeng minus (gbr.6) berikut ring di bawahnya setelah ring spi.
Setelah semua ring dicopot, tinggal tarik sepatu kopling yang lama dan ganti punya BeAT. Beres kan! Oh ya, cara pasangnya, kebalikan waktu membukanya tadi, ya. Silakan dicoba!
Sumber : ototips.otomotifnet.com
var geo_Partner = ‘d9d498ef-9201-4636-96ba-379cf375149f’; var geo_isCG = true;

>Deteksi Belt Skutik Mau Putus, Waspada Setelah 15-20 Ribu Km

February 27, 2010
>OTOMOTIFNET – Prinsip dasar kerja belt CVT pada motor skutik yakni mirip dengan rantai di motor non skutik. Nah masalahnya, part ini enggak selalu dapat dipantau karena posisinya yang tertutup boks CVT. Pentingkah memantau belt CVT?
Pasti! Sebab tali penghantar reduksi ini bisa saja putus karena pemakaian dan umur dari belt itu sendiri. Nah berhubung peranti ini enggak kelihatan, tentu ada cara tersendiri untuk mendeteksi belt yang mau putus tanpa harus buka boks CVT.
Caranya? Gini, sebenarnya belt yang sudah hampir die bisa dirasakan saat motor itu dipakai jalan. Umumnya, sabuk penggerak ini punya umur pemakaian hingga 15–20 ribu kilometer. Jika lewat dari kilometer yang ditentukan pabrik, baiknya rider harus waspada!
Ciri-cirinya? Nah menurut Bambang Suryo dari bengkel Putra Racing Sport, belt yang sudah minta ganti akan menimbulkan suara berisik pada rumah CVT. Selain itu, juga berdampak negatif saat motor diajak berakselerasi.
“Saat gas diputar, tenaga yang dihasilkan tidak sesuai dengan putaran mesin atau selip,” jelas Bambang yang punya workshop di daerah Pondok Gede, Jaktim ini. Masih kurang yakin?

Gbr 1

Gbr 2

Gbr 3

Gbr 4
Pada ambang batas pemakaian 15 – 20 ribu kilometer, periksa kondisi fisik belt di dalam rumah CVT. “Biasanya kalau mau putus, terdapat keretakan pada belt bagian yang bergigi di sisi dalam (gbr.1),” lanjut bapak satu anak ini.
Selain itu, sudut di sisi samping belt terlihat lebih ramping atau tajam (gbr.2) dibanding belt standar. Bisa begitu lantaran permukaan tersebut terus-menerus bergesekan dengan puli (gbr.3) dan minim perawatan.
Gak mau usia belt cepat rusak? Kalau gitu, lakukan perawatan sederhana. Tinggal bongkar rumah CVT dan bersihkan debu-debu yang hinggap di belt dan sekitarnya pakai angin kompresor. Siklus perawatan tersebut bisa dilakukan tiap 3 kali masa penggantian oli mesin.
Atau dengan cara lain, yaitu melumasi perangkat CVT (gbr.4) menggunakan gemuk khusus. Eits, tapi jangan sembarangan melumasi bagian tersebut, sebab kalau salah bisa berakibat tarikan jadi selip karena belt gak bisa mencengkram puli.
Bagian yang dimaksud yakni dalam mangkok CVT yang bisa bikin belt kendur-kencang saat motor berakselerasi. “Di bagian dalam mangkok tersebut terdapat pelor-pelor. Nah pelor itulah yang harus diberi gemuk secukupnya,” tutup Bambang.
Sumber : ototips.otomotifnet.com

>Deteksi Knalpot Honda Beat Meletup Saat Gas Di Tutup

February 15, 2010
>
OTOMOTIFNET – Menurut Ferdy, knalpot standar Honda BeAT-nya nembak-nembak? “Suaranya sih gak keras, tapi risih aja dengar dep..dep-nya,” katanya sambil menirukan suara letupan yang dimaksud. Malah, setelah sharing dengan sesama pengguna skutik itu, mereka juga mengalami hal sama.
Eits tenang Fer, gak perlu esmosi, hehe! BeAT nembak, tandanya ada beberapa bagian mesin patut dicek! Nah buat BeAT-mania yang tak kunjung menemukan jalan keluar soal letupan di knalpot standar BeAT, langsung simak ya!
Pertama cek SASS (gbr.1) (secondary air suplay system). “Fungsi SASS, mengatur semprotan udara bersih agar bereaksi dengan gas sisa pembakaran, yang nantinya diolah jadi gas ramah lingkungan,” buka Julius Jhonny dari bengkel Jhonny Holle Motor (JHM).

Gbr 1

Gbr 2

Gbr 3
Nah masalahnya, kalau flow pada komponen itu ada yang gak beres, bisa menimbulkan letupan. Sebaiknya, cek slang-slang SASS kalau-kalau ada yang terjepit atau terlipat. Nah kalau hal itu tak ditemui, langsung periksa katup di dalam SASS.
Katup itu berfungsi mengatur flow O2 (udara bersih) serta CO & HC dari sisa pembakaran mesin. Nah masalahnya, saat katup itu tak membuka-tutup secara sempurna, akibat adanya kotoran yang menyelinap ke permukaan katup.
“Itu sama saja ada gas yang keluar sebelum masuk ke ruang bakar. Efeknya, campuran bahan bakar di mesin jadi kacau,” sahut Jeffry Willar dari Mitra2000 yang juga bilang, minta bantuan bengkel resmi untuk membersihkan katup itu karena di dalam buku panduan manual, SASS hanya boleh dibuka ahlinya alias mekanik.
Masih nembak juga? Langsung aja atur ulang putaran air screw di karburator (gbr.2). Kalau putaran gak sesuai setingan pabrik, dapat menimbulkan suara letupan yang dimaksud. Bisa begitu karena sedikit banyak air screw dapat mangatur debit bensin yang dikirim oleh karburator.
Gak efektif? Lanjut membersihkan bagian dalam karburator seperti spuyer (gbr.3). Kalau main jet atau pilot jet tersumbat kerak bensin, hal itu bisa bikin suplai BBM terganggu. Efeknya? Sama saja, ruang bakar jadi lean alias miskin BBM.
Masih nembak juga? Berarti bisa lakukan cara terampuh namun paling menguras kantong. Apa tuh? “Sekalian saja upgrade pengapian pakai CDI racing. Di pasaran sudah banyak beredar CDI racing buat BeAT dari Rp 350-500 ribuan.
Dengan pakai CDI racing, diharapkan pembakaran bisa jadi lebih efektif dan maksimal. Tapi ingat! Kalau CDI sudah diganti, baiknya juga diikuti penggantian angka spuyer lebih besar. “Ya cukup naikan ukuran pilot jetnya satu step. Jangan kebanyakan, sebab knalpot masih mengandalkan bawaan standar,” tutup Jeffry.

Sumber : ototips.otomotifnet.com
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

2 komentar:

  1. hmm... capek juga yah punya motor matik (honda beat)
    masalah saya tak kunjung selesai padahal nih motor sebulan lagi masuk 1 tahun..

    banyak yang bilang bagian CVT kotorlah.... belt tak layak pakailah... hadeeehh!!!

    semua itu baik-baik saja broo.....

    tapi kenapa ya, suara 'kemretek' dan 'berdecit' itu tak kunjung hilang...
    masalahnya saya dan mekanik tidak mengetahui asal suara itu dengan pasti....

    CVT sudah dibongkar pasang 9X, dan tak ada perubahan (suara decit nggak hilang juga).... pemberian gemuk (oli beku) uga sdh dilakukan...

    suara 'kemretek' uga makin keras aja....

    BalasHapus